bayi boneka

Fenomena Adopsi Bayi Boneka di Kalangan Artis, Berbahaya!

Posted on

Mengadopsi bayi boneka lalu memperlakukannya layaknya bayi yang bernyawa kini tengah trend di kalangan artis.

Tidak hanya Ivan Gunawan saja yang memiliki anak boneka, tapi juga sederetan artis dan selebritis lainnya. Beberapa diantaranya adalah istri Ruben Onsu Sarwendah, Roy Kiyoshi, Celine Evangelista,  Risa Saraswati, istri Jerinx SID Nora Alexandra dan Wendy Walters.

Beberapa diantaranya bahkan ada yang terang-terangan menyampaikan bahwa boneka yang mereka asuh adalah spirit doll atau boneka arwah, seperti Risa Saraswati dan Roy Kiyoshi. Konon, spirit doll yang mereka miliki berisi soul dari bayi yang tewas karena aborsi.

Terlepas benar tidaknya kebenaran dari spirit doll, fenomena adopsi bayi boneka memberikan dampak negatif tersendiri, tidak hanya bagi artis yang bersangkutan tapi juga bagi masyarakat utamanya fans dari artis tersebut.

Asal-Usul Spirit Doll

Boneka arwah berawal dari Negeri Gajah Putih Thailand sekitar tahun 2016. Kala itu orang-orang di sana banyak mengadopsi bayi boneka. Namun, bukan boneka biasa. Boneka-boneka yang mereka rawat memiliki kekuatan supranatural sehingga disebut Luk Thep atau ‘malaikat anak’.

Sebelumnya di Thailand juga sudah ada boneka yang benar-benar diisi arwah bayi, tepatnya diisi abu jenazah bayi pada bagian dalamnya. Boneka arwah ini dinamakan Gumanthong.

Bayi yang dikremasi untuk diambil abunya tersebut ada yang berasal dari bayi hasil praktik aborsi, ada bayi yang meninggal karena sakit serta sebab-sebab kematian yang lain.

Masyarakat Thailand percaya bahwa Gumanthong dapat memberikan keberuntungan. Itu sebabnya spirit doll ini mereka jadikan sebagai jimat penglaris untuk menarik pelanggan. Caranya dengan menyelipkan uang pada bagian tubuh Gumanthong.

Untuk bisa mendapatkan tuah keberuntungan dan perlindungan, pemilik Gumanthong wajib memperlakukan boneka arwahnya seperti halnya memperlakukan makhluk hidup, mulai dari memberi mainan, memberi makan sampai dengan mendoakan.

Gumanthong memiliki tiga jenis: pertama, boneka yang tidak mengandung roh, tapi hanya didoakan oleh biksu agar memiliki kekuatan, kedua, boneka yang mengandung roh bayi. Ketiga, boneka yang dibuat dari jasad bayi utuh.

Untuk jenis yang ketiga dikenal dengan sebutan Lok Krok dan pada umumnya memiliki kekuatan jahat.

Dampak Negatif Adopsi Bayi Boneka

Terlepas apakah bayi boneka yang dirawat sejumlah artis tersebut memiliki kekuatan supranatural atau tidak, fenomena memperlakukan boneka seperti memperlakukan anak manusia memiliki dampat negatif dari sisi kejiwaan.

Intan Erlita, seorang psikolog yang juga model dan pembawa acara menyampaikan bahwa spirit doll dapat menjadikan daya khayal si pemilik menjadi berlebih yang berujung dapat merusak mental orang tersebut.

“Saat boneka diperlakukan layaknya makhluk hidup, seperti diajak berbicara, dampaknya akan muncul ikatan emosional berlebih dan hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan anggapan bahwa boneka itu hidup. Ketergantungan terhadap benda mati yang dianggap bernyawa inilah yang berbahaya,” terang psikolog yang kerap menjadi presenter acara olah raga ini.

Namun demikian, fenomena mengadopsi bayi boneka di kalangan artis, tidak menutup kemungkinan disebabkan latar belakang lain, salah satunya untuk mencari sensasi. Karena sebagai seorang selebritis, terkadang butuh sesuatu yang unik dan berbeda agar menjadi perbincangan publik.

“Tujuannya agar jadi berita. Jadi, bisa saja bayi boneka tersebut saat di rumah digeletakkan begitu saja. Namun begitu di depan kamera diperlakukan layaknya memperlakukan bayi sungguhan,” kata Intan.

Dampak negatif lainnya menurut psikolog berusia 41 tahun ini adalah terciptanya tren sebagaimana yang terjadi di kalangan artis. Karena segala sesuatu yang dipopulerkan oleh selebritis seringkali menjadi tren.

Bagi selebritis yang melakukan hal tersebut karena untuk mencari sensasi, besar kemungkinan dapat ‘mengerem’ perilakunya. Tapi bagi fans mereka yang terdiri dari berbagai jenjang pendidikan, ekonomi dan usia, tidak menutup kemungkinan akan kebablasan.

“Menjadi berbahaya karena sesuatu yang sebenarnya keliru justru dianggal hal yang benar,” ujar Intan.

Karena itulah psikolog ini menyampaikan agar masyarakat memiliki ketegasan dalam memutuskan, apakah fenomena mengadopsi bayi boneka ini sesuatu yang baik atau buruk. Hal tersebut perlu dilakukan agar sesuatu yang buruk tidak justru dipandang benar dan dianggap normal oleh masyarakat umum.

Karena kalau fenomena mengadopsi bayi boneka ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan kedepan akan seperti masyarakat Jepang dimana ada orang-orang yang menikah dengan boneka. Hal tersebut terjadi karena sebelumnya dilakukan pembiaran. (*)